Chunky Heels Trend 2015

Chunky Heels Trend 2015

Chunky Heels Tampil Lebih Elegan

Untuk Bisa Menjadi Trend 2015


Chunky Heels Trend 2015 hadir sebagai alternatif high heels untuk menggeser dominasi Cone dan Stiletto yang beresiko tinggi dan menuntut pengorbanan kaki penggunanya.

Chunky Heels Trend 2015 berbeda dengan Chunky Heels 1650 yang popularitasnya diperoleh karena menjadi sepatu Raja Perancis Louis XIV, sehingga kerabat kerajaan dan kalangan bangsawan juga ikut-ikutan memakai model tersebut. Chunky Heels trend 2015 hadir dalam arena fashion tanpa referensi dan rekomendasi dari siapapun, kecuali keragaman inovasinya sendiri.

Chunky Heels style memang pernah populer pada tahun1970-an, kemudian menghilang menjelang tahun 1980. Sekitar dua tahun yang lalu model sepatu ini mulai muncul kembali. Tentu saja, sesuai dengan tuntutan dunia fashion penampilannya jauh lebih elegan dibandingkan sebelumnya. Dalam tahun 2015 Chunky Heels diperkirakan dapat meraih minat banyak wanita, karena ada beberapa faktor yang memungkinkan Chunky menjadi kompetitif dalam pasar high heels.

Apa saja faktor tersebut ?

Selama ini para pengguna high heels yang ingin memperoleh efek tinggi tetapi kurang menyukai model Wedges karena alasan estetik tidak memiliki pilihan kecuali model Stiletto High Heels atau Cone High Heels. Jika pilihannya jatuh pada Stiletto maka ada kendala yang harus diantisipasi, yaitu memerlukan waktu untuk berlatih lebih dulu sebelum terbiasa memakainya keluar rumah karena top heelnya yang rata-rata berdiameter kurang dari 1 Cm beresiko sangat tinggi. Selain itu pengguna harus siap mengalami gangguan kesehatan kaki, mulai dari ujung jari kaki hingga ke pinggul.

Chunky Heels Trend 2015
Perbandingan heels antara Cone dengan Chunky

Alternatifnya adalah menjatuhkan pilihan kepada Cone Heels. Meskipun demikian bukan berarti menjadi pilihan yang tidak memiliki resiko. Cone high heels pada umumnya didesain dengan top heel lebih kecil, sehingga resiko itu tetap ada. Pilihan untuk meminimalisir resiko adalah pada Banana High Heels atau Round Heels, submodel Cone Heels yang memiliki top heel paling luas bahkan mendekati top heel milik Chunky.

Karena itu banyak konsumen sepatu wanita yang sebenarnya merasa “tertindas” selama bertahun-tahun oleh mindset yang tercipta di dunia fashion bahwa kecantikan identik dengan high heels, dan high heels identik dengan Stiletto. Mindset ini menjadi harga mati yang tidak bisa ditawar sedikit pun, padahal Stiletto memiliki top heels dengan ketidakstabilan sangat tinggi. Alasannya, agar pemakai terkesan tinggi dan langsing. Ironisnya mindset ini berkembang di kalangan wanita negara-negara Barat yang dikenal  memiliki penalaran logis dan rasional.

Lebih ironis, mindset itu diimpor oleh para wanita dari negara-negara berkembang termasuk Indonesia. Meskipun banyak wanita yang menyadari bahwa kecantikan yang sesungguhnya itu berasal dari dalam atau dalam istilah populernya inner beauty. Tetapi tetap merasa sulit melepaskan diri dari mindset yang kebanyakan pendukungnya terdiri dari para desainer, rumah mode dan produsen sepatu.

Maka setelah cukup lama berkompromi dengan Cone Heels, mindset itu semakin melemah. Apalagi di kalangan konsumen remaja, bukan berarti mereka lebih rasional, tetapi karena lebih suka memilih cara serba instan tapi minim resiko. Di saat itu Chunky menjadi jawaban dan sekaligus alternatif yang paling tepat. Chunky membuat pemakainya menjadi lebih tinggi tanpa resiko, dan agak sensasional.

Di era 1980-an, setelah berjaya selama sepuluh tahun dengan penampilannya yang terbilang konservatif karena masih setia dengan desain mirip sepatu Louis XIV, Chunky terpaksa harus terpinggirkan oleh para kompetitornya. Sampai beberapa lama model Chunky heel jarang ditemukan di pasar sepatu wanita.

Sekitar dua tahun belakangan, setelah absen dan melakukan instrospeksi, model Chunky sedikit demi sedikit mulai hadir dengan penampilan yang berbeda. Nampaknya, dalam kurun waktu tersebut Chunky sedang menjajagi pasar dan memilih aplikasi yang tepat untuk mengulang masa kejayaannya.

Chunky Heels 2015 yang diharapkan menjadi salah satu trend di dunia fashion hadir selain dengan keunggulannya yang tanpa resiko, ditawarkan dalam berbagai style yang bisa dipilih dan langsung dipakai tanpa latihan, memiliki kestabilan yang mantap bahkan jika digunakan oleh para wanita yang bertubuh tambun. Chunky 2015 tampil baru menjadi high heels yang memiliki beragam style dari hasil kreasi yang sangat inovatif.

Revolusi desain Chunky Heels 2015 tidak hanya pada keragaman ukuran tumit, juga meliputi kombinasi bahan, pilihan warna dan style yang kontemporer. Sehingga Chunky Heels 2015 yang ditampilkan dalam fashion show dari Milan hingga New York menjelang akhir tahun 2014 menjadi puncak dari berbagai inovasi yang dilakukan pada tahun-tahun sebelumnya.

Chunky Heels Trend 2015

Chunky Heels Trend 2015

Chunky Heels Trend 2015

Meskipun di kalangan wanita yang “mapan” fashion atau mereka yang sudah terbiasa dengan mindset lama, kehadiran Chunky Heels 2015 masih sulit diterima, Chunky style baru ini memiliki peluang yang amat besar di kalangan konsumen remaja dan wanita muda. Chunky Heels sekaligus juga menjadi alternatif bagi mereka yang ingin tampil lebih tinggi tapi tetap peduli terhadap kesehatan kaki.

Ciri khas tumit Chunky dari seat heel sampai top heel yang sama besarnya itu merupakan bentuk yang bertentangan dengan bentuk tumit Stiletto yang kecil, bulat dan runcing. Tumit Chunky yang tebal sekaligus menjadi simbol “perlawanan” terhadap Stiletto yang mendominasi high heels selama puluhan tahun.

Jika Stiletto terkesan ramping sehingga menimbulkan rasa khawatir akan terjatuh bagi mereka yang belum pernah memakainya, sebaliknya Chunky terkesan solid dan kokoh. Wanita yang belum pernah memakai high heel akan segera memilih Chunky dan sekaligus memakainya tanpa dibayangi kekhawatiran dan rasa sakit pada ujung jari kaki mereka.

Hanya masalahnya, mampukah Chunky Heels menjadi trend di tahun 2015 untuk menggeser dominasi Stiletto dan Cone yang telah menjadi ikon dunia fashion sejak puluhan tahun yang lalu ? Atau harus menunggu satu hingga dua tahun ke depan untuk meraih pasar di kalangan remaja ?


Tidak ada komentar: