Sepatu Wanita Model Chopine

Sepatu Wanita Model Chopine

Chopine, Sepatu Hak Tinggi dari Abad 15


Sepatu model Chopine pada dasarnya sama dengan Stiletto high heel, keduanya mengabaikan aspek fungsi dari sepatu. Chopine mengutamakan aspek status sosial dan Stiletto memprioritaskan aspek fashion.


Sepatu Chopine adalah model sepatu yang populer di beberapa negara Eropa sepanjang abad 15 sampai abad 17. Di masa itu, Chopine tidak hanya dipakai oleh wanita, khusus yang berhak rendah juga digunakan oleh kaum pria dan lebih difungsikan sebagai status simbol. Keberadaannya mirip dengan High Heels di masa kini, High Heels lebih mengutamakan pada aspek fashion, akibatnya aspek fungsi menjadi terabaikan.

Demikian pula Chopine, karena lebih mengutamakan aspek status sosial yang direfleksikan pada ukuran ketinggiannya, maka semakin tinggi akan semakin sulit digunakan. Sehingga setiap kali memakainya harus didampingi dua orang pembantu yang mengawal di kedua sisi untuk menuntun dan menjaga pengguna Chopine agar tidak terjatuh.

Ingin tahu lebih banyak keunikan Chopine lima abad lalu ?

Chopine (dilafalkan : "shah - pin") didesain dengan hak tunggal seperti Wedges, tetapi memiliki posisi telapak kaki yang rata. Sedangkan pada model Wedges, tumit pengguna berada pada posisi yang lebih tinggi. Tetapi beberapa model Chopine didesain dengan bagian tumit lebih tinggi, meskipun nampak tidak terlalu mencolok karena sudut kemiringannya yang rendah.

Sepatu Wanita Model Chopine
Chopine memiliki hak tunggal, persis model Wedges.

Sebagian kalangan mode mendeskripsikan Chopine sebagai High Heels, sebagian lagi menolaknya dengan alasan posisi telapak kaki penggunanya berbeda dengan High Hels. Nampaknya kedua pendapat yang berbeda itu sama-sama benar. Pasalnya, beberapa model Chopine memiliki konstruksi telapak kaki seperti sepatu flat, sedangkan beberapa model lainnya di desain dengan posisi tumit lebih tinggi seperti high heels.

Chopine yang diproduksi pada masa teknologi belum semaju seperti sekarang ini, kebanyakan merupakan hasil kombinasi deari beberapa material. Platformnya yang tebal dibuat dari cork atau kayu gabus yang ringan dikombinasikan dengan suede atau velvet (beludru). Beberapa Chopine didesain dengan kombinasi logam ringan. Chopine yang digunakan oleh kalangan keluarga istana dan para bangsawan memiliki assesories lebih banyak dan berbahan mahal, karena dinilai penting untuk menunjukkan status kebangsawanan penggunanya.

Chopine yang didesain sederhana dan berukuran lebih rendah digunakan oleh kalangan masyarakat biasa. Dengan kesederhanaan itu justru fungsi Chopine sebagai pelindung kaki dapat dimanfaatkan secara optimal. Meskipun ukuran ketinggian hak Chopine dijadikan sebagai tolok ukur status sosial penggunanya, tetapi tidak merupakan ketentuan bersifat resmi yang dikukuhkan dengan peraturan atau perundang-undangan.

Siapa pun yang memiliki lebih banyak uang dan bersedia menanggung kesulitan memakai Chopine bisa memiliki model yang berukuran tinggi. Hal ini dimanfaatkan oleh isteri-isteri simpanan bangsawan untuk “menaikkan” status agar setara dengan Suami gelap mereka. Tidak hanya sebatas itu, para wanita pekerja seks juga banyak yang memakai Chopine berukuran tinggi untuk mempercantik penampilan mereka yang notabene juga sebagai strategi menaikkan tarif.

Akibatnya menjadi sangat ironis, orang yang bertemu wanita bersepatu Chopine dengan assesorie mewah dan berukuran cukup tinggi akan sulit untuk membedakan apakah dia sedang berhadapan dengan wanita dari kalangan bangsawan yang sangat terhormat. Atau sebaliknya, sedang berhadapan dengan seorang pelacur kelas tinggi.

Sepatu Wanita Model Chopine
Penampilan wanita Italia yang memakai Chopine.
Hal ini tidak berbeda dengan saat-saat kehadiran high heels di era tahun 1950-an, setelah dipopulerkan oleh para artis terkenal sehingga menjadi bagian dari perangkat fashion untuk menampilkan diri agar lebih seksi, cantik dan menarik.  Di saat yang sama, sepatu wanita berhak tinggi tersebut dimanfaatkan pula oleh para pekerja seks komersial sebagai upaya “pemasaran” dan untuk menaikkan harga jual.

Sejarah sepatu fashion tidak mencatat siapa perancang sepatu model Chopine, hanya diketahui Chopine hadir pertama kali di Venesia, Italia pada abad 15. Dalam kurun waktu dua abad berikutnya, Chopine merambah ke berbagai negara Eropa, terutama Spanyol, Perancis dan Inggris. Di negara-negara tersebut Chopine diterima dan dianggap menjadi bagian dari perangkat fashion.

Meskipun hadir pertama kali di Venesia, Chopine merupakan model sepatu yang dirancang berdasarkan pengaruh sepatu-sepatu berukuran tinggi berasal dari Asia dan Afrika. Di jaman itu Venesia merupakan pelabuhan dan sekaligus pusat perdagangan untuk pendistribusian komoditas dari negara-negara Asia dan Afrika ke negara-negara seluruh Eropa.

Kebudayaan para pedagang, khususnya di segi fashion, terutama sepatu yang mereka pakai menginspirasi warga Venesia untuk membuat sepatu mereka sendiri dengan ukuran yang tinggi, tapi desain berbeda. Pada awalnya, sebagai salah satu model sepatu fungsi utama Chopine adalah untuk alas kaki agar penggunanya dapat melindungi kaki-kaki mereka dari kotoran dan jalanan berlumpur akibat genangan air hujan.

Dalam perkembangannya, ukuran hak Chopin yang tinggi itu dimanfaatkan kaum bangsawan untuk menandai status sosial mereka. Model Chopine akhirnya menyebar dengan cepat ke negara-negara di Eropa dan  secara alamiah desain dan fungsi Chopine beradaptasi dengan kondisi sosial masyarakat yang berbeda-beda di setiap negara.

Di negara-negara dengan pemerintahan aristokratis, Chopin lebih cenderung berkembang menjadi perangkat untuk menentukan status sosial. Desain Chopine juga beradaptasi dengan budaya-budaya berbeda, sehingga melahirkan Chopine-Chopine dengan aplikasi yang beragam. Di tempat kelahirannya sendiri, Venesia, platform Chopine lebih banyak dihiasi dengan ukiran-ukiran, Chopine tertinggi yang pernah ditemukan di Venesia berukuran 30 Inci atau 76,2 Cm.

Dari segi fisik pengguna Chopine akan berdiri lebih tinggi dibandingkan dengan pengguna sepatu berhak rendah, apalagi dengan mereka yang hanya memakai flat. Kondisi tersebut akan membuat pengguna Chopine merasa “lebih tinggi”, secara psikologis juga berarti memberikan efek sebagai pribadi yang serba lebih, tergantung persepsi penggunanya masing-masing. Bisa lebih aristokratis, lebih kaya, lebih cantik atau lebih tinggi dalam arti yang sebenarnya.



Referensi :
European Culture 16th Century, www.fashionencyclopedia.com
History Of Chopine, www.shoeshistoryfacts.com

Tidak ada komentar: