Sepatu Chopine High Heels

Sepatu Chopine High Heels

Chopine, Sepatu Wanita Hak Tinggi
Yang Ngetrend 200 Tahun Lebih


Meskipun sepatu high heels atau hak tinggi Chopine menjadi trend selama dua abad di Eropa, style dan modelnya tidak sekaya High Heels abad 21


Sepatu Chopine adalah model yang populer di beberapa negara Eropa sepanjang abad 15 sampai abad 17. Meskipun penampilannya terkesan “innocent”, Chopine mampu mendominasi model sepatu selama dua ratus tahun lebih. Dalam kurun waktu tersebut Chopine juga berkembang dengan beragam style, tetapi tetap tidak meninggalkan penampilan awalnya.

Chopine merupakan model sepatu yang mendongkrak tinggi badan pemakainya dengan menerapkan dua konstruksi sekaligus, yakni platform dan high heels. Satu-satunya model sepatu wanita modern yang mirip dengan Chopine adalah Wedges. Tetapi kebanyakan Wedges didesain dengan sole lebih tipis pada bagian depan telapak, sehingga platformnya tidak “penuh”, hanya terdiri hanya tiga per empat bagian.

Apa kelebihan Chopine lainnya yang tidak dimiliki oleh sepatu modern ?

Di masa itu, Chopine merupakan sepatu fashion yang bersifat unisex, bisa digunakan pria dan wanita. Tidak banyak sepatu di abad modern yang bersifat unisex, kecuali model Loafers dari jenis hak datar atau boots sebatas jenis hak rendah. Meskipun hal ini bisa dimaklumi, karena perubahan selera fashion merupakan dampak dari perkembangan peradaban manusia.

Chopine mampu hadir bukan hanya sebagai sepatu fashion, tetapi juga menjadi perangkat untuk “mengukur” status sosial penggunanya. Khususnya di kalangan wanita, semakin tinggi ukuran platform Chopine, maka semakin tinggi pula status sosial penggunanya, di jaman itu identik dengan keluarga kerajaan dan kaum bangsawan.

Sehingga beberapa Model Chopine didesain dengan ukuran yang cukup tinggi, fungsinya sebagai sepatu nyaris hilang. Beberapa literatur menjelaskan fungsi lain dari model Chopine berukuran tinggi tersebut sebagai strategi para suami agar isterinya enggan berjalan-jalan ke tempat yang jauh. Dengan demikian mereka bisa mencegah para isteri dari kemungkinan berselingkuh.

Dijamannya, apakah berbagai faktor tersebut menjadi keunggulan Chopine atau tidak, harus diakui bahwa Chopine menjadi model sepatu yang hadir di tempat dan waktu yang tepat. Karenanya, Chopine dengan cepat menuai popularitas dan sekaligus mempertahankannya dalam kurun waktu yang relatif lama.

Selain menjadi model sepatu yang paling dominan di negeri asalnya sendiri, Italia, Chopin menyebar dan menjadi model yang dominan di negara-negara Perancis, Inggris dan Spanyol. Tanpa meninggalkan desain dasarnya, style Chopine berkembang berbeda-beda sesuai adaptasinya dengan trend fashion di setiap negara.

Di Italia, Chopine lebih cenderung diperlukan untuk menambah tinggi badan penggunanya, karena itu Chopine yang terdapat di Italia umumnya didesain dengan hak tinggi. Platform Chopine di Italia dibiarkan polos, kecuali di bagian paling bawah ditambah dengan beberapa ukiran. Masalahnya, gaun yang dipakai para wanita disana adalah rok panjang yang menutup sampai batas pergelangan kaki, sehingga penampilan Chopine tidak perlu diutamakan.

Sepatu Chopine High Heels

Chopine di Spanyol kebanyakan di desain dengan ukuran pendek. Platformnya dilapisi kulit, atau kain velvet kemudian dihiasi dengan manik-manik. Chopine yang digunakan oleh para bangsawan bahkan dihiasi dengan permata dan rantai dari emas. Penampilan Chopine lebih diutamakan di Spanyol, karena para wanita disana mengenakan gaun lebih pendek,  di atas mata kaki mereka.

Sepatu Chopine High Heels

Kejayaan Chopine berakhir bersamaan dengan terjadinya revolusi Perancis yang menghukum para penguasa di bawah pisau guillotine. Chopine yang dianggap sebagai simbol kekuasaan penindas rakyat harus ikut mengundurkan dari dari dunia fashion. Pada abad ke 19, Chopine melakukan reinkarnasi dalam bentuk Wedges, tepatnya tahun 1930 dan dibidani oleh Salvatore Ferragamo. Di awal abad 21, hak tebal Chopine yang mirip dengan Chunky hadir kembali dan menjadi trend high heels di tahun 2015.


Referensi :
Chopines, www.metmuseum.org
Raised Heels, aands.org

Tidak ada komentar: