Sepatu Pantofel Untuk Wanita

Sepatu Pantofel Untuk Wanita

Sepatu Pantofel Untuk Wanita
Lebih Populer Disebut Loafers


Tiga style sepatu Pantofel untuk wanita juga dikembangkan oleh para desainer sehingga menjadi Loafers dengan beragam desain untuk berbagai busana dan kesempatan


Diadopsi untuk sepatu wanita, Pantofel yang memiliki tiga basis style itu kemudian diperkaya dengan berbagai aplikasi fashion, sehingga dalam beberapa penampilannya model Pantofel nyaris tak bisa dikenali lagi. Karena itu dalam perkembangan selanjutnya, kaum pria yang sebelumnya telah akrab dengan nama Pantofel tidak pernah mengira bahwa sepatu wanita yang populer dengan sebutan Loafer sebenarnya  berasal dari model sepatu milik mereka.

Seperti model sepatu wanita lainnya, Pantofel atau Loafer tidak hadir secara tiba-tiba seperti yang telah kita kenal, melainkan melalui proses yang cukup panjang sebelum menjadi model sepatu dengan konstruksi dan desain yang khas untuk membedakan dengan model-model sepatu lainnya. Loafers memiliki tiga style dengan ciri yang selalu dipelihara oleh para desainer, sehingga meskipun diaplikasi dengan beberapa model dan style sekaligus, masing-masing style masih dengan mudah bisa dikenali.

Kapan Loafers dirancang untuk pertama kali dan apa saja ketiga style Loafers tersebut ?

Sepatu yang berpenampilan mirip atau sama dengan model loafers memiliki sejarah yang berbeda-beda di berbagai negara. Rentang waktu penemuannya pun tak berselisih banyak, karena pada dasarnya masalah yang dihadapi dan peluang yang dimiliki oleh para perancang sepatu nyaris sama, meskipun mereka dipisahkan oleh batas-batas geografis yang pada saat itu masih sulit ditembus.

Untuk memahami sejarah sepatu wanita yang dimulai puluhan tahun, bahkan ratusan tahun silam akan lebih intens jika kita bisa membayangkan tingkat peradaban masyarakat di masa-masa tersebut. Pada saat itu mereka belum memiliki perangkat teknologi seperti sekarang, dimana untuk mendisain puluhan pasang sepatu dapat dilakukan dengan cepat berkat kecanggihan program komputer.

Tidak hanya sebatas merancang sepatu, juga memprediksi kemungkinan pasar, memperhitungkan biaya produksi sampai mempromosikannya dapat dilakukan dalam hitungan detik melalui jaringan internet yang merambah ke berbagai pelosok dunia. Sementara di bidang hukum, pentingnya hak paten atas suatu penemuan juga masih terabaikan. Karena itu, bisa jadi model sepatu yang diklaim sebagai penemuan di negara tertentu, ternyata model yang sama sudah banyak dipakai oleh masyarakat negara lain.

Satu hal mendasar yang patut dicermati, bahwa untuk semua penemuan jenis sepatu flat modern tidak bisa secara mutlak diklaim oleh siapa pun yang hidup di abad 20, karena sepatu dengan konstruksi dasar seperti model flat sudah dibuat sejak 5.500 tahun, tepatnya tahun 3.500 SM. Sepatu tersebut diberi nama Areni-1 oleh para arkeolog sesuai dengan nama gua tempat ditemukannya, di wilayah provinsi Vayots Dzor, Armenia.

Saling klaim bisa terjadi terhadap style tertentu bersifat spesifik yang merupakan pengembangan dan aplikasi dari model dasar sepatu. Hal ini pun kadang-kadang masih belum jelas, siapa perancangnya lebih dulu, seperti terjadi pada model sepatu hak tinggi Stiletto. Sebagian kalangan fashion percaya sepatu tersebut dirancang pertama kali oleh Adre Perugia, tetapi sebagian yang lain berpendapat bahwa penemunya adalah Roger Vivier, Disainer dari Perancis.

Loafer atau Pantofel memiliki sejarah yang mirip seperti itu. Salah satunya tercatat bahwa sepatu model Loafers untuk pertama kalinya diperkenalkan oleh Raymond Lewis Wildsmith di London pada tahun 1847. Awalnya dirancang untuk Raja George VI sebagai sepatu kasual yang hanya digunakan di dalam istana. Dalam perkembangannnya, desain tersebut diadopsi oleh para perancang sepatu dan mulai dipasarkan  untuk masyarakat umum, akhirnya sampai merambah ke berbagai negara termasuk Amerika.

Loafers akhirnya berkembang menjadi tiga style

Sepatu dengan model Pantofel juga diklaim sebagai penemuan dari Nils Gregoriusson Tveranger, asal Aurland, Norwegia. Sekitar tahun 1908 penemuannya itu diperkenalkan dengan nama "Aurland Moccasin", kemudian nama tersebut dirubah menjadi "Aurland Shoes". Setelah populer di negaranya sendiri, Aurland Shoes diekspor keluar Norwegia sampai akhirnya masuk ke Amerika.

Setelah melalui proses yang cukup panjang, dalam perkembangannya sepatu ini menjadi salah satu style dari model Loafer yang populer dengan sebutan Penny Loafers.

Model seperti Loafers dengan style yang berbeda, saat itu juga banyak dijumpai di pasar sepatu. Tetapi karena diproduksi oleh perusahaan sepatu dalam jumlah kecil, maka pasar sepatu Loafers lebih banyak dikuasai oleh style Penny Loafers. Didukung oleh permodalan yang besar dan jaringan pemasaran yang luas, Penny Loafers semakin kokoh menjadi salah style yang spesifik dalam dunia fashion.

Sepatu Loafers lain yang mencoba menjadi kompetitor dan masuk ke pasar pada tahun 1950-an didesain dengan konstruksi yang sama. Bedanya di bagian atas diberi rumbai-rumbai sebagai assesories. Ternyata style baru yang diluncurkan oleh perusahaan sepatu Alden ini mendapat respon positif dari konsumen, maka segera diproduksi dalam jumlah besar dan dipasarkan secara lebih luas.

Meskipun harus mengalami pasang surut sesuai dengan perkembangan dunia fashion yang sangat dinamis, dari masa ke masa hingga saat ini style Loafers berumbai ini mampu bertahan menjadi salah satu style Loafers yang disukai konsumen, sehingga memiliki segmentasi pasar tersendiri. Style Loafers ini dalam dunia fashion dikenal dengan nama > Tassel Loafers.

Keunggulan sepatu model Loafers yang mudah dan praktis digunakan, serta mampu memberikan kenyamanan untuk penggunanya merupakan faktor penting untuk mempertahankan eksistensinya dalam pasar fashion yang semakin hiruk pikuk dengan beragam style dan aplikasi yang dihasilkan oleh para desainer. Eksistensi Loafers juga menarik perhatian rumah mode terkenal, Gucci.

Pada tahun 1953 Gucci meluncurkan Loafers dengan style yang berbeda, yakni mendesain Loafers dengan bahan kulit berwarna coklat tua kehitam-hitaman. Kemudian memberikan sentuhan assesories berupa miniatur sanggurdi atau pijakan untuk kaki penunggang kuda yang digantungkan pada pelana berupa dua bulatan yang saling tersambung dengan warna keemasan pada bagian kaki atas Loavers, sehingga warna kontras tersebut menimbulkan kesan sangat elegan dan mewah.

Karena produk Gucci terkenal mewah dan mahal, Loafer dengan style tersebut hanya dikonsumsi oleh kalangan eksekutif, selanjutnya menjadi trend di kalangan para pengusaha. Melihat style Loavers ala Gucci memiliki peluang yang menjanjikan, maka banyak produsen sepatu berskala menengah dan kecil yang mengadopsi desain tersebut dan ikut meramaikan pasar sepatu Loafers.

Sepatu Pantofel Untuk Wanita
Dalam perkembangannya Loafers tampil dalam 3 style yang berbeda.

Konsumen yang pada umumnya cenderung  mencontoh gaya para selebriti dan kalangan atas menjadi segmentasi pasar yang memperkokoh kehadiran style Loafers ala Gucci tersebut. Sampai saat ini style tersebut tetap mampu bertahan di dunia fashion dan khusus untuk produk Gucci dikenal dengan nama Horsebit Loafers. Tetapi untuk Loafers dengan style serupa yang dihasilkan oleh produsen lain lebih populer dengan sebutan > Bit Loafers.

Ketiga style Loafers tersebut secara keseluruhan memiliki kemiripan karena pada prinsipnya memang merupakan pengembangan dari "Aurland Shoes". Sedikit perbedaannya terletak pada konstruksi pada upper bagian atas kaki yang dirancang menyatu dengan vamp. Pada bagian atas samping luar dan dalam diberi celah yang dihubungkan dengan material bersifat elastis. Gunanya untuk “membuka” sepatu agar lebih lebar, dan akan menutup kembali setelah kaki masuk ke dalam sepatu.

Konsumen awam sering menganggap model Slip On sebagai salah satu style Loafers, tapi sebenarnya pengertian itu terbalik. Justru loafers termasuk dalam kategori Slip On, karena definisi Slip On adalah alas kaki yang bisa dipakai hanya dengan cara menyelipkan kaki. Dalam pengertian ini tidak perlu menggunakan tangan seperti misalnya flat lace-up atau model sepatu pria Oxford yang harus mengikat dan mengurai tali setiap kali hendak memakai atau melepaskannya.

Model sepatu yang juga masuk dalam kategori Slip On adalah espadrile, flat ballerina, moccasin dan tentu saja beragam sepatu yang diaplikasi dengan style sandal sebatas cara memakainya hanya dengan menyelipkan kaki.

Tags : sepatu-pantofel-untuk-wanita



Referensi artikel “Sepatu Pantofel Untuk Wanita” :
en.wikipedia.org
www.wildsmith.com
www.livslystsogndal.no

Tidak ada komentar: